Di sela waktu istirahat dalam kegiatan rapat kerja di Ambon, beberapa teman berkumpul dari berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa orang bercerita tentang undangan welcoming dinner oleh Gubernur Maluku di kediaman beliau. Cerita mulai dari rumah dan panorama yang cantik serta sajian musik yang sangat menarik (terutama suara merdu Oom Zeth sang maestro), minuman khas Maluku (juice buah Gandaria dan Pala) serta makanan Ikan yang disediakan tuan rumah. Salah seorang diantara peserta bercerita tentang kesukaan masyarakat Jepang dalam hal makan ikan.

Konon kabarnya di lautan Jepang (jauh di tengah laut dalam) terdapat sejenis ikan yang memiliki rasa khas dan sangat enak bagi orang Jepang. Untuk memperoleh ikan tersebut nelayan harus berlayar sangat jauh ke tengah laut (dalam) sehingga membuat ikan tersebut menjadi sangat mahal (mungkin karena upaya yang dikeluarkan cukup luar biasa; butuh waktu, tantangan serta risiko yang dihadang dll). Muncul keinginan untuk dapat menikmati ikan unik tersebut dengan upaya yang minimal, sehingga diputuskan untuk membudidayakan jenis ikan tersebut di lokasi yang dekat dengan pantai.. Untuk itu disiapkan (dengan teknologi yang canggih) kondisi laut yang mirip dengan ekosistem atau habitat asli tempat dimana ikan tersebut berada. Singkatnya dengan teknologi buatan (bukan alami, karena telah dilakukan engineering), dilakukan budidaya ikan mahal tersebut di tempat budidaya yang disiapkan (termasuk arus air bawah laut buatan yang mirip dengan ekosistem asli, serta berbagai jenis ikan kecil yang merupakan konsumsi ikan tersebut).

Namun demikian, ternyata nelayan yang memiliki fasilitas budi daya tersebut mendapat komplain dari rumah makan yang memperoleh pasokan ikan dari fasilitas tersebut. Komplain tersebut diterima dari konsumen akhir (pelanggan restoran atau rumah makan) yang menikmati ikan tersebut setelah diolah dan bersedia membayar mahal (ikan budi daya juga dijual dengan harga yang sama dengan ikan yang berasal dari ekosistem asli/alami, sehingga marjin keuntungan yang diterima petambak budi daya menjadi lebih besar). Komplain yang diterima adalah; rasa ikan jenis yang (sama) dan disajikan sebagai menu rumah makan, memiliki (kualitas) rasa berbeda dengan ikan sebelumnya yang berasal dari ekosistem asli mereka. Sementara konsumen membayar dalam jumlah yang sama.

Lazimnya perusahaan yang responsif, setelah menerima komplain pemilik fasilitas budi daya melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab; kenapa (kualitas) rasa ikan yang sama berbeda antara yang berasal dari ekosistem atau habitat aslinya dengan budi daya?. Ternyata ditemukan bahwa dalam ekosistem yang dibuat mirip dengan kondisi alami serta makanan yang sama, ikan-ikan tersebut tidak “bergerak” atau bereaksi sesuai dengan kondisi habitat aslinya. Diantara penyebabnya adalah bahwa di habitat buatan, si nelayan budi daya lupa atau tidak memasukkan “predator” ikan tersebut sebagaimana terdapat di habitat asli (di tempat penangkaran hanya ada ikan sejenis dan ikan-ikan kecil untuk makanan). Singkatnya ikan-ikan unik yang di penangkaran tersebut “menjadi malas” karena tidak terdapat “kompetisi”; baik dalam memperoleh makanan dengan ikan sejenis atau jenis lainnya (karena makanan tersedia dengan melimpah), maupun kesiapan ikan tersebut dalam membentuk pertahanan diri menghadapi berbagai predator yang mereka hadapi di habitat aslinya.

Uraian di atas, metafora “ikan unik” tersebut dilihat dari sudut pandang sebagai perusahaan, paling tidak memberikan pelajaran kepada kita dalam beberapa hal.

Pertama, persaingan adalah sesuatu yang alamiah dan tidak terhindarkan oleh perusahaan. Kondisi persaingan yang alami adalah “hal terbaik” yang akan dihadapi perusahaan, sehingga jika organisasi perusahaan sudah “diproteksi sedemikian rupa” (reengineered) menjadi tidak alami sehingga sulit untuk berkompetisi dengan perusahaan lain yang sudah terbiasa untuk berkompetisi secara alamiah. Walaupun perusahaan yang diproteksi dapat memperoleh kinerja relatif lebih baik, namun (karena diproteksi alias tidak alami) capaian kinerja tersebut hanya bersifat sementara sehingga cenderung semu. Sesuatu yang telah di-engineer (tidak alami) misalnya melalui bentuk proteksi, mengakibatkan perusahaan (baca manajemen) merasa berada dalam comfort zone, sehingga cenderung mempengaruhi budaya (manajemen) perusahaan menjadi “malas” sehingga tidak responsif dengan perubahan lingkungan bisnis atau persaingan. Dalam jangka panjang, hal ini menjadi tidak sehat karena akan mempengaruhi jalannya organisasi dengan terjadinya perubahan lingkungan bisnis yang tidak dapat dihambat dengan proteksi, seperti turbulensi yang diakibatkan oleh krisis.

Kedua, persaingan “alami” memang lebih baik untuk “membiasakan dan mendewasakan” perusahaan dalam menghadapi berbagai hal yang muncul di lingkungan bisnis. Dalam hal ini kita belajar dari berbagai suku yang hidup di hutan dan membiasakan anak-anak mereka dari kecil mandi hujan, bermain di sungai dan biasa berhubungan dengan berbagai binatang. Dalam kaitan ini yang penting adalah bagaimana “mengarahkan” mereka dengan memberikan pemahaman tentang cara berhadapan dengan berbagai kondisi yang berpotensi untuk terjadi. Misalnya, kita tidak bisa melarang anak kita untuk menyeberang jalan raya karena takut mereka akan tertabrak kendaraan, karena memang begitulah lingkungan yang sedang dan akan mereka hadapi. Tindakan terbaik (dari sudut pandang sempit ini) paling tidak adalah mengajarkan kepada anak-anak kita “bagaimana cara menyeberang dengan benar dan baik, sehingga tidak membahayakan diri mereka”.

Ketiga, alam (melalui karunia Allah SWT) telah mengajarkan kepada kita bahwa persaingan yang akan dihadapi tidak hanya dengan sesama (jenis) makhluk saja, tetapi juga dengan predator yang mengancam kelangsungan hidup makhluk tersebut. Cerita ikan di atas menggambarkan bahwa dengan diabaikannya keberadaan predator, maka semangat bertahan (the spirit of survive) menjadi lemah dan cenderung membuat perusahaan menjadi lemah, karena tidak pernah (kecil kemungkinan) untuk memikirkan keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang diperlukan di dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Dalam kaitan ini, jika perusahaan mampu memetakan potensi ancaman yang akan dihadapi, secara naluriah akan tercipta semangat (the spirit) untuk mengoptimalkan pertahanan melalui berbagai kekuatan yang dimilliki.

Akhirnya, jangan takut berkompetisi karena hal tersebut adalah sesuatu yang alamiah sehingga lebih diperlukan upaya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai bentuk kompetisi (persaingan) yang mengancam eksistensi perusahaan. Dalam kaitan ini berbagai “strategic management concept and techniques” telah membekali kita dengan “the art of competing” sebagai bekal untuk mempersiapkan diri.

Kredit untuk Bapak Tabrani Hilmi Ibrahim
(mantan Pemimpin Bank Indonesia Aceh, saat ini menjabat Komisaris Independen BPD Aceh)
dan beberapa anggota FKDK/P yang tidak dapat disebutkan satu persatu

Pemuda 21