Dalam mendukung pelaksanaan “enterprise governance project” guna menghasilkan rekomendasi secara lebih komprehensif, dilakukan 27 serial studi kasus di 10 negara serta mencakup 10 jenis industri berbeda (misalnya retailing, financial services and telecommunications) (lihat Lees, 2005). Berbagai kesuksesan dan kegagalan –yang didefinisikan sebagai total kegagalan/collapse maupun kesulitan keuangan korporasi yang membahayakan serta berakibat kepada penurunan laba serta harga saham secara tajam, publisitas yang buruk tentang korporasi- menjadi perhatian utama di dalam studi kasus yang dilakukan (termasuk dalam sampel studi kasus tersebut; Enron, WorldCom, Xerox dan Southwest Airlines). Ruang lingkup dan cakupan studi kasus dimaksudkan untuk dapat memperoleh dasar yang memadai agar dapat menarik kesimpulan umum, namun tidak menjamin hasil penelitian memenuhi kriteria rigorous academic research. Terlepas dari latar belakang ini, tujuan studi kasus ini dimaksudkan untuk menganalisis dan mengidentifikasi berbagai hal yang berhubungan dengan isu corporate governance dan isu strategis.
Berdasarkan hasil analisis terhadap studi kasus yang dilakukan, diidentifikasi 4 isu kunci dalam corporate governance yang menjadi dasar kesuksesan dan kegagalan implementasi konsepsi tersebut;
1.Culture and tone at the top (budaya dan kemampuan pimpinan puncak)-misalnya, Dewan Komisaris Enron telah berkomitmen dan mendeklarasikan “values of integrity and excellence”, namun para pegawai korporasi masih beranggapan dan percaya bahwa ukuran kinerja riil tetap saja didasarkan kemampuan menghasilkan laba
2.The chief of executive (peranan Direktur Utama)-ditemukan berbagai kasus peranan CEO yang relatif dominan sehingga Direksi lainnya (bahkan Dewan Komisaris) tidak mampu untuk menolak bahkan mengkritisi berbagai keputusan strategis yang merugikan korporasi (dalam studi kasus digunakan contoh Bernie Ebbers-CEO WorldCom)
3.The board of directors (Dewan Komisaris)-dalam beberapa kasus ditemukan kelemahan Dewan Komisaris terjadi pada kegagalan untuk mengkritisi (challenge) CEO, dan Dewan Komisaris juga sering gagal untuk melakukan tindakan yang diperlukan pada waktu yang tepat
4.Internal Controls (pengendalian internal)-sebagaimana ditemukan dalam kasus Enron, terdapat penekanan terhadap pertumbuhan pendapatan (earnings growth) dan inisiatif individual dimana manager yang tidak berpengalaman diberikan terlalu banyak peluang tanpa diikuti dengan mekanisme kontrol yang memadai dan handal untuk meminimalisasi kegagalan
Namun demikian, tidak terdapat satu (dari empat isu di atas) yang lebih penting atau dominan antara satu dengan lainnya, karena keempat isu tersebut bersifat saling berhubungan satu sama lainnya. Lebih lanjut, terdapat hal menarik yang pada beberapa kasus sukses yang ditemukan; implementasi governance secara baik dan benar tidak terlihat secara kuat (did not feature strongly) sebagai suatu faktor kunci kesuksesan. Walaupun demikian hal tersebut bukan merupakan implikasi bahwa corporate governance menjadi tidak penting untuk kesuksesan korporasi. Lebih jauh, implikasi hasil temuan tersebut seharusnya digunakan untuk memahami konsepsi bahwa “governance is necessary, but not a sufficient, foundation for success”. Nilai dari kerangka enterprise governance didasarkan pada kenyataan bahwa konsepsi enterprise governance memberikan penekanan dan fokus terhadap dua hal; conformance dan performance serta perlunya korporasi untuk tidak kehilangan arah dalam memahami fenomena tersebut.
Dari berbagai sumber
….to be continued